Sebagai bentuk kepedulian atas problem lingkungan ini, Yayasan Phapeda melakukan studi tiru tentang tata kelola sampah yang baik, komperehensif, dan berkelanjutan.
Jakarta, suaradamai.com – Persoalan sampah di Kabupaten Teluk Bintuni yang belum tertangani secara komprehensif, menjadi perhatian serius pengurus Yayasan Pemerhati Perempuan dan Anak (Phapeda).
Sebagai bentuk kepedulian atas problem lingkungan ini, Yayasan Phapeda melakukan studi tiru tentang tata kelola sampah yang baik, komperehensif, dan berkelanjutan.
Sebagai langkah kecil dalam memberikan perhatian atas masalah ini, pengurus Yayasan Phapeda mengunjungi Rumah Plastik Mandiri yang ada di Kabupaten Buleleng, Bali.
Dalam kunjungannya selama dua hari, Sabtu-Minggu (10-11/4/2026), pengurus yayasan belajar bagaimana mengelola sampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomis.
Dalam studi belajar ini, rombongan dipimpin langsung pendiri Yayasan Phapeda, Harlina Husain.
Di Rumah Plastik Mandiri, Pemilik Usaha Rumah Plastik Mandiri Eka Darmawan, banyak membagi ilmunya, mulai dari bagaimana sampah harus dipilah sejak dari sumbernya, dipisahkan sesuai dengan jenisnya, dan didaur ulang menjadi produk bernilai tinggi.
Dalam mengolah sampah ini, Eka banyak memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
“Jadi ada dua hal yang berjalan seiring dalam aktivitas ini. Dari sisi lingkungan, persoalan sampah bisa teratasi. Kemudian dari sisi sosialnya, bisa menciptakan lapangan kerja bagi Masyarakat,” kata Eka.
Pelajaran selama dua hari cukup menjadi bekal pengetahuan bagi pengurus Yayasan Phapeda untuk mengolah sampah plastik yang cukup banyak ditemui di Teluk Bintuni.
Dari Buleleng, rombongan bergeser ke Jakarta dan Bekasi.
Di Jakarta, pengurus Yayasan Phapeda belajar banyak soal manajemen Bank Sampah di Yayasan Kumala milik Dindin Komarudin.
Yayasan yang ada di Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok ini, cukup berhasil dalam mengelola sampah dan pemberdayaan masyarakat.
“Sebagai Bank Sampah Induk, saat ini kami memiliki 72 Bank Sampah Unit,” kata Abah Dindin, sapaan popular Dindin Komarudin dalam sesi diskusi dengan pengurus Yayasan Phapeda, Kamis (16/4/2026).
Menariknya, di tempat ini, Abah Dindin banyak memberdayakan anak-anak jalanan sebagai anak asuh binaan. Terdapat 7 anak jalanan yang saat ini tinggal di Yayasan Kumala, dan 2 anak jalanan yang masih tinggal di kolong jembatan.
Selain disiapkan tempat tinggal, anak jalanan ini juga diajari cara membuat produk kerajinan tangan berbahan dasar sampah kertas, menjadi barang bernilai ekonomis.
“Kalau karyawan di yayasan, ada 14 orang,” tukas Abah Dindin.
Abah Dinding yang pernah menerima Kalpataru, penghargaan dari Presiden RI pada 5 Juni 2024 ini, juga mengajak rombongan Yayasan Phapeda mengunjungi Karang Taruna Desa Muara Bakti di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.
Di tempat ini, pengurus Phapeda belajar, bagaimana anak-anak muda bisa menjadi motor penggerak kebersihan lingkungan.
“Kami banyak mendapatkan bimbingan dari Abah Dindin dalam hal ini. Masih banyak hal yang harus kami selesaikan dalam pengelolaan sampah ini,’ kata Wais Alqodri, Ketua Karang Taruna Desa Muara Bakti.
Bukan hanya didominasi anak-anak muda, dalam pengelolaan sampah di desa ini, Karang Taruna Muara Bakti juga melibatkan para orangtua sebagai penggerak (ranger) dan komite pengawas.
“Terima kasih atas informasi yang telah disampaikan. Semoga sharing session ini bisa menjadi bekal pengetahuan kami untuk diterapkan di Teluk Bintuni,” kata Cristin Mustamu, Ketua Yayasan Phapeda, di penghujung pertemuan.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni









