Bupati Kaidel Kenakan Lia Lia, Yuk Intip Warisan Leluhur Aru yang Tak Ditelan Zaman Ini!

Hingga saat ini, Lia lia masih digunakan oleh masyarakat Aru di desa-desa untuk melakukan aktivitas sehari-hari pada saat musim hujan, seperti ke kebun, sekolah, tempat ibadah, dsb.


‎Dobo, suaradamai.com – Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, belum lama ini tampil memakai Lia lia yang dikenakan masyarakat kepadanya saat kunjungan kerja di Kecamatan Aru Selatan.

‎Momen itu diabadikan lewat media sosial resminya.

‎Unggahan tersebut langsung dikomentari positif warganet yang mengingat kembali masa kecil mereka saat mengenakannya.

‎”Jelas  kami pung tradisi  selalu bkin katong ingat waktu kecil kita kesokolah bwah lia2,” tulis akun Facebook Yanti Djamonay.

‎Apa itu Lia Lia?

‎Lia lia atau payung Aru adalah kearifan lokal orang aru yang dipakai pada saat musim hujan atau panas.

‎Payung tradisional orang Aru yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun tikar atau Pandan hutan dirangkai sedemikian rupa dengan teknik tradisional menjadikan produk yang bermanfaat dan tepat guna.

‎Warna-warna cerah dan motif khas menjadi bagian tak terpisahkan dari tampilan payung ini, mencerminkan semangat, keberanian, serta keindahan budaya Aru yang kental dengan filosofi alam.

‎Hingga saat ini Lia lia masih digunakan oleh masyarakat Aru di desa-desa untuk melakukan aktivitas sehari-hari pada saat musim hujan seperti ke kebun, sekolah, gereja, dsb.

‎Teknik memilih daun, mengeringkan, hingga menganyam dengan pola tertentu diajarkan kepada anak-anak mereka, sehingga tradisi ini tetap hidup hingga hari ini.

‎Warisan ini menjadikan Lia-lia sebagai perlengkapan multi-fungsi yang sangat relevan dengan pola hidup masyarakat Aru yang dekat dengan alam.

‎Makna dan Fungsi Lia Lia

‎Dalam tradisi orang Aru, Lia lia digunakan dalam berbagai upacara adat, terutama saat penyambutan tamu agung, tokoh masyarakat, hingga dalam prosesi adat pernikahan.

‎Payung ini bukanlah milik sembarang orang, melainkan hanya digunakan oleh orang yang dihormati atau pemimpin adat.

‎Penggunaan Lia lia menandakan bahwa seseorang memiliki posisi atau peran penting dalam struktur sosial masyarakat Aru.

‎Bagi mereka menggunakan Lia lia sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala ketika belum mengenal payung. Selain praktis, Lia lia dapat bertahan lama, bisa dipakai bertahun-tahun dan tidak buang banyak uang untuk membeli payung.

‎Fungsi Lia lia pun tidak terbatas hanya sebagai payung saat turun hujan. Keunikan lainnya, benda ini juga dapat difungsikan sebagai alas tidur atau tikar darurat ketika masyarakat berada di hutan atau dalam perjalanan jauh.

‎Di tengah derasnya arus modernisasi, Lia lia menjadi salah satu simbol budaya yang terancam dilupakan.

‎Namun, masyarakat Aru terus berupaya untuk melestarikan keberadaan payung adat ini melalui festival budaya, pendidikan lokal, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan.

‎Kehadiran Lia lia tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan menghormati tradisi leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

‎Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku


Bagikan:

spot_img

Populer

Artikel terkait

Polikant Gandeng Ohoi Namar Berdayakan UMKM Enbal Semprong

Sepuluh mahasiswa Polikant akan dampingi Audin Snack benahi manajemen...

52 Regu Ramaikan Gerak Jalan Indah HUT ke-81 RI di Bintuni

Peserta dari dua arah berbeda bertemu di garis finis...

Jaga Daya Beli dan Kondusivitas, Pemkot Ambon Pastikan Bantuan Pangan Tepat Sasaran

“Kegiatan hari ini bukan semata soal beras atau minyak...

Wali Kota Ambon Minta Generasi Muda Kritis secara Santun: Kritik Pemerintah dengan Etika, Bukan Caci Maki

Wattimena mengibaratkan tata kelola pembangunan Kota Ambon seperti sebuah...