“Kemiskinan di Maluku ini sebenarnya bukan kemiskinan pangan, tetapi kemiskinan uang tunai. Karena itu, kelapa ini dari dulu sudah jadi sumber uang tunai. Sedangkan pangan lain seperti umbi-umbian itu menjadi sumber pangan (makanan). Dengan demikian ada uang tunai, ada makanan. Sehingga pengentasan kemiskinan secara berangsur-angsur itu prosesnya bisa terjadi,” ujar guru besar Universitas Pattimura, Prof. Dr. Nafly Comilo Tiven.
Dobo, suaradamai.com – Desa-desa di Kepulauan Aru mulai bergerak menanam ribuan pohon kelapa. Langkah ini menjadi fondasi investasi jangka panjang demi menyongsong kesejahteraan ekonomi masa depan masyarakat bumi Jar Garia.
Program 10 Juta Pohon Kelapa atau yang dijuluki sebagai “Pohon Emas Hijau” merupakan gagasan strategis Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, untuk membangun ekonomi hijau berkelanjutan.
Mengingat melonjaknya permintaan komoditas kelapa (seperti coconut milk dan VCO) di pasar global, Bupati Kaidel melihat peluang besar untuk menjadikan Aru sebagai salah satu sentra produsen kelapa nasional.
Target penanaman dicapai secara bertahap dalam jangka 5 tahun melalui sinergi stakeholder, dinas teknis, dan pemerintah desa dengan memanfaatkan alokasi ketahanan pangan Dana Desa.
Pemerintah daerah menerapkan skema subsidi di mana buah kelapa diprioritaskan menjadi bibit unggul yang dibeli dari masyarakat. Setiap Kepala Keluarga (KK) ditargetkan menanam 10–20 pohon secara kontinu. Lahan kelapa dipastikan tetap menjadi milik masyarakat adat dan anak cucu mereka.
Ini tentunya untuk menarik para investor agar menyuplai, bahkan berpotensi membangun pabrik pengolahan kelapa dari Aru.
Gagasan ini mendapat sambutan antusias dari pemerintah desa yang langsung mengeksekusi penanaman di lapangan.
Misalya di Desa Karangguli, Kecamatan Pulau-pulau Aru telah menanam 13.500 pohon kelapa.
”Kami sudah melaksanakan penanaman, menanam 13.500 pohon. Dengan harapan program ini akan tetap berkelanjutan. Ini untuk memperkuat perekonomian masyarakat Karangguli,” ungkap Kepala Desa Karangguli, Elias Boby Eiromkuy.
Begitupun dengan Desa Wangel, Kwarbola, Murai, Selibata-bata, dan desa-desa lainnya yang telah menanam ribuan pohon emas itu.
Program Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa Sangat Cocok di Aru
Program unggulan ini menurut Guru Besar Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Dr. Nafly Comilo Tiven sangat cocok dengan geografis Kepulauan Aru.
Prof. Tiven mengungkapkan bahwa Kepulauan Aru memiliki potensi lahan kering seluas 582.303 hektare (sekitar 29,38% dari total lahan kering di Maluku). Dijelaskannya, berdasarkan riset Faperta Unpatti bersama Bapelibang Aru, kelapa adalah tanaman yang paling adaptif.
Kelapa sangat toleran terhadap musim kemarau panjang, efisien dalam penggunaan air (tidak membutuhkan sistem irigasi rumit), serta dapat berfungsi sebagai tanaman peneduh/pelindung bagi komoditas sela lainnya.
Sehingga pengembangan industri kelapa di Aru adalah langkah ilmiah yang tepat untuk menjadi jembatan menuju kesejahteraan masyarakat.
Menurut prof Tiven, pengembangan industri kelapa dapat menjadi jalan keluar dari masalah kemiskinan yang dihadapi masyarakat Aru.
“Kemiskinan di Maluku ini sebenarnya bukan kemiskinan pangan, tetapi kemiskinan uang tunai. Karena itu, kelapa ini dari dulu sudah jadi sumber uang tunai. Sedangkan pangan lain seperti umbi-umbian itu menjadi sumber pangan (makanan). Dengan demikian ada uang tunai, ada makanan. Sehingga pengentasan kemiskinan secara berangsur-angsur itu prosesnya bisa terjadi,” ujar Prof Tiven dalam sebuah wawancara bersama Suaradamai.com.
Ia mendukung langkah Bupati Kaidel yang menggagas kembali penanaman kelapa. Kendati demikian, Guru Besar di Unpatti itu mengingatkan agar Pemkab Aru memulai mengelola potensi kelapa yang sudah ada.
