Lika liku Milenial Dalam Menghadapi Quarter Life Crisis (QLC)

Kita mungkin tidak pernah mengira bahwa memasuki fase dewasa akan mengalami banyak kecemasan tentang masa depan yang membuat galau sepanjang malam. Hal ini sama seperti yang Muhamad Abizar rasakan, dimana dia ini merupakan anak muda awal 20-an yang juga mengalami hal demikian. Menurut dia, perasaan semacam ini adalah hal yang normal, karena mayoritas dialami oleh anak remaja yang akan memasuki fase dewasa, yang biasanya disebut dengan Quarter Life Crisis.

Muhamad Abizar


Anak muda kelahiran 2000 ini mengakui bahwa pada masa Quarter Life Crisis memang tidak mudah dilewati karena peralihan dari sebuah situasi yang belum siap untuk dihadapi dari remaja menuju dewasa, apalagi jika tidak memiliki manajemen diri yang baik. Karena itu tidak jarang kita jumpai pada masa-masa transisi ini banyak anak muda yang stress, depresi, dan bahkan bunuh diri. Dia sendiri pernah berada pada titik terendah dalam fase Quarter Life Crisis ini sendiri, yaitu ketika setelah lulus kuliah tetapi harus menganggur beberapa bulan karena belum mendapatkan pekerjaan, sedangkan teman-temannya yang lain sudah memulai karirnya.


Selama beberapa bulan menganggur tersebut, selama itu pula dia merasa sangat galau, khawatir, cemas, merasa jadi beban, tidak berguna, dan stress karena tidak kunjung mendapatkan kabar baik dari perusahaan yang dilamarnya. Belum lagi pada saat yang bersamaan banyak aspek hidup lain yang jadi beban pikiran pria usia 22 tahun ini, seperti finansial yang belum stabil, keluarga, hubungan percintaan, dan tujuan lainnya yang masih terhambat sehingga menjadi sebuah tekanan tersendiri baginya.
Karena pikiran sudah kalut dengan berbagai perasaan negatif, Abizar menyadari bahwa keadaan itu tidak boleh membuatnya semakin rendah diri. Alih-alih diam dan berlarut-larut dalam perasaan negatif, Abizar memilih untuk keluar dari situasi tersebut dan menyikapinya dengan lebih bijak dan positif, diantaranya dengan belajar mengenal diri sendiri lebih jauh, menurunkan ekspektasi yang berlebihan terhadap diri sendiri, menerima keadaan, dan tidak membanding-bandingkannya dengan kehidupan orang lain yang kelihatannya sempurna.


“Saya mencoba untuk menerima keadaan diri saya saat ini, fokus pada diri sendiri, dan tidak menuntut diri sendiri agar sesuai dengan standar sosial diluar sana, karena saya percaya bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing”, tuturnya.


Karir yang menunjang sepertinya menjadi sumber kecemasan paling terasa dalam masa Quarter Life Crisis. Sebagaimana dengan karir itu bisa membuat perekonomian lebih baik, juga inilah yang kebanyakan menjadi masalah pokok mayoritas keluarga. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa, dengan perekonomian yang stabil bisa membawa kita pada kehidupan yang lebih layak. Seperti kutipan yang biasa kita jumpai,”menangis di atas mobil itu lebih baik, daripada menangis diatas sepeda”. Karena realitanya, dengan perekonomian yang baik, akan banyak masalah yang dapat terselesaikan.


Kabar baiknya karena saat ini dia sudah bekerja disalah satu perusahaan makanan & minuman di Indonesia sesuai dengan prospek kerja jurusan kuliahnya dulu. Meskipun begitu, kerap kali dia juga mengalami efek dari Quarter Life Crisis ini seperti insecure (merasa tidak aman/tenang) dan pikiran berlebih atau anak millenial sering menyebutnya dengan overthinking, terutama tentang masa depan yang memang hakikatnya belum pasti. Entah ingin menjadi apa, mau seperti apa, akan bagaimana, dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya yang menimbulkan banyak jawaban di kepala.

“Tenang tapi berisik”. Mungkin itu adalah kalimat singkat yang menggambarkan orang-orang yang mengalami overthinking.
Apalagi di zaman yang melek teknologi seperti ini, tak jarang kita membuka sosial media pun harus lebih bisa mengontrol diri. Yang awalnya bersosial media untuk melepaskan penat dengan hiburan, eh malah jadi insecure karena melihat berbagai pencapaian orang lain.


“Daripada menghabiskan waktu scrolling sosial media tanpa tujuan, lebih baik saya alihkan hal itu dengan melakukan kegiatan yang saya sukai seperti menonton film atau bermain game, agar lebih fokus dan tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain di sosial media”, imbuhnya lagi.


Menurut Abizar, fase Quarter Life Crisis tidak selamanya buruk. Dalam wawancara bersama pada (Minggu, 26/06/2022) dia mengatakan, “Justru dengan menghadapi fase ini saya jadi lebih aware terhadap pencapaian dan potensi-potensi yang ada pada diri saya, serta fokus pada pengembangan diri sendiri. Bagi saya, fase ini memberi banyak pelajaran bahwa apapun yang terjadi pada diri saya, itu semua bergantung pada bagaimana cara saya menyikapi atau meresponnya”.


Sebagai penutup sharing-sharing malam itu, ada sebuah penyemangat yang disampaikan Abizar untuk siapapun yang sedang mengalami fase Quarter Life Crisis.


“Tetap semangat walaupun pikiran lagi berkelana kesana kemari mencari jawaban yang belum tentu pasti, tetap bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini, dan jangan lupa untuk berdamai dengan diri sendiri, serta fokus pada pengembangan diri. Tidak perlu terlalu terburu-buru, karena setiap orang pasti ada masanya dan setiap masa ada orangnya”.


Penulis adalah Mahasiswa Universitas Siber Asia (UNSIA)
Pjj. Ilmu Komunikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU