Mantapkan Ketersedian Oleh-oleh, Dispar Malra Gelar Pelatihan dan Bentuk Kelompok Binaan

Ketersediaan oleh-oleh memiliki peran penting dalam memperkenalkan kekhasan daerah. Sekaligus sebagai salah satu sumber pendapatan bagi pelaku usaha.


Langgur, suaradamai.com – Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) terus berupaya memantapkan ketersedian oleh-oleh bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sebagai salah satu atraksi wisata, oleh-oleh juga merupakan tujuan para pelancong ketika berkunjung ke suatu daerah.

Ketersediaan oleh-oleh memiliki peran penting dalam memperkenalkan kekhasan daerah. Sekaligus sebagai salah satu sumber pendapatan bagi pelaku usaha.

Sebab itu, Dispar Malra terus menggalakkan pelatihan-pelatihan tentang cara memproduksi oleh-oleh dari berbagai macam kerajinan tangan. Mereka tidak hanya menyasar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau pelaku usaha pariwisata, tetapi juga siswa dan mahasiswa dalam rangka mempersiapkan SDM pariwisata yang unggul dan profesional.

Dalam bulan ini, misalnya, Dispar Malra menggelar tiga pelatihan sekaligus dalam waktu yang berdekatan, yaitu pelatihan dasar SDM kepariwisataan bagi masyarakat, guru, dan pelajar; pengembangan kompetensi sumber daya manusia pariwisata dan ekonomi kreatif tingkat dasar; serta pelatihan peningkatan SDM pelaku usaha pariwisata.

Pelatihan tersebut dibuka oleh Bupati Malra yang diwakili oleh Asisten II Bidang Administrasi Umum Martinus Mon, di Aula Serbaguna Anugerah Ohoijang, pekan lalu.

Sebanyak 35 orang peserta yang ikut, diajarkan tentang cara membuat kerajinan tangan menggunakan bahan lokal yang mudah didapat dan murah. Mereka juga diajarkan cara memasarkan produk hingga manajemen keuangan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Ana Yunus mengatakan pihaknya akan terus memantau perkembangan peserta yang dilatih. Kemudian akan menilai dan mengketegorikan peserta berdasarkan perangkingan.

Hal tersebut, Ana menjelaskan, dimaksudkan untuk membedakan jenis pelatihan dan pendampingan yang akan diberikan kedepan. Peserta yang “naik kelas” dikategorikan sebagai peserta advance, mendapat pelatihan tingkat atas. Sedangkan peserta yang “tinggal kelas” akan diberikan pelatihan yang disesuaikan dengan kondisi peserta.

Ana mengakui, ketersediaan dan keberagaman oleh-oleh di Maluku Tenggara belum banyak. Bahkan, menurut dia, belum ada oleh-oleh yang menjadi ikon pariwisata Maluku Tenggara.

“Wisatawan ketika datang, bukan hanya melihat pantai. Ketika mereka pulang, mereka harus bawa oleh-oleh. Ini yang belum tersedia (secara jumlah dan keragaman) di sini,” kata Ana mengakui.

Untuk itu, Ana menambahkan, pihaknya juga akan membentuk kelompok binaan yang khusus memproduksi oleh-oleh. Anggota kelompok ini berasal dari peserta yang ikut pelatihan.

Hasil produksi dari kelompok binaan akan dipasarkan di berbagai tempat, termasuk Kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrnasda) Kabupaten Maluku Tenggara.

“Kita bisa distribusi ke otlet-outlet atau galeri-galeri atau ditampung di Dekranasda. Saya juga memberikan apresiasi kepada Ibu Ketua PKK (Eva Eliya Hanubun), yang mana Dekranasda berjalan sudah sangat baik. Mudah-mudahan binaan kami bisa berpartisipasi, menyumbang hasil produksi kami di Dekranasda,” ujar Ana.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU

error: Konten dilindungi!