AMBON, suaradamai.com — Rencana menghidupkan kembali kejayaan sagu sebagai komoditas unggulan Maluku tidak dapat hanya berfokus pada pembangunan industri pengolahan. Para pakar mengingatkan, pemerintah daerah harus menjamin ketersediaan bahan baku jangka panjang melalui program budidaya dan penanaman kembali yang terukur dan berkelanjutan.
Prof. Dr. Ir. August E. Pattiselano, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura sekaligus Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), menyampaikan pandangan itu ketika membahas rencana hilirisasi sagu di lingkungan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Jumat (06/11/2026).
Menurutnya, jika pengembangan industri hanya bergantung pada tanaman sagu yang tumbuh secara alami, pasokan bahan baku untuk kebutuhan pabrik‑pabrik besar di masa depan dikhawatirkan tidak akan stabil. Ia juga menyoroti bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat yang beralih dari sagu ke beras telah ikut memengaruhi keberadaan dan pemanfaatan tanaman sagu di banyak wilayah Maluku. Padahal sejak lama, sagu bukan sekadar bahan pangan, melainkan bagian dari identitas dan sumber penghidupan warga.
“Jangan hanya mengandalkan sagu yang tumbuh secara alami. Harus ada budidaya dan penanaman kembali sehingga ketika dilakukan penebangan, sudah tersedia tanaman pengganti,” tegasnya.
Pattiselano menyatakan bahwa kemitraan antara pemerintah daerah dan pihak swasta dapat menjadi jalan untuk menjadikan sagu sebagai kekuatan ekonomi baru. Namun, industrialisasi harus disusun dengan memperhatikan karakteristik wilayah, karena sebagian besar tanaman sagu tumbuh di kawasan rawa. Pengelolaan yang salah dapat merusak ekosistem dan justru menghilangkan sumber kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Di daerah itu, sagu dikelola sebagai komoditas perkebunan dengan sistem budidaya yang rapi, sehingga mampu memasok kebutuhan industri dan pasar ekspor secara terus‑menerus. Pengalaman tersebut, katanya, bisa menjadi acuan bagi Maluku.
Sampai saat ini, pemanfaatan sagu di Maluku masih sangat bergantung pada hutan sagu alami. Padahal untuk kebutuhan industri skala besar, diperlukan kepastian pasokan dari kawasan budidaya yang dikelola sendiri. “Kalau kita ingin mengembangkan industri, maka bahan bakunya harus tersedia. Karena itu, budidaya menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari rencana hilirisasi,” ujarnya.
Ia juga menunjuk potensi pengembangan kembali kawasan‑kawasan lama yang dulunya menjadi sentra sagu, salah satunya di Kabupaten Seram Bagian Timur. Meskipun sebagian lahan telah berubah fungsi, masih ada wilayah yang kondisinya memungkinkan untuk ditanami kembali, asalkan disusun perencanaan yang matang.
Rincian pola budidaya itu nantinya akan disempurnakan setelah kerja sama pemerintah dengan pihak swasta benar‑benar berjalan. Dengan begitu, hilirisasi tidak hanya menghasilkan produk olahan dan peluang ekspor, tetapi juga menghidupkan kembali kawasan sagu, memperkuat kesejahteraan petani, serta mengembalikan sagu sebagai identitas pangan Maluku.
“Kejayaan sagu pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa besar industri yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga dan menumbuhkan kembali sumber daya ini untuk generasi mendatang,” tutup Pattiselano.
PENULIS/PEWARTA: CHINTIA SAMANGUN
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kota Ambon










