Sabtu, Oktober 31, 2020

Pengukuhan Rat Merohoinean Berlangsung “Maryadat”

Sebelum prosesi pengukuhan, tetua adat melakukan ritual pembersihan dan penyucian dalam tiga ritual berbeda.


Elat, suaradamai.com – Setelah mengalami kevakuman Rat/Raja selama kurang lebih empat tahun (2016-2020), masyarakat adat Ratshcaap Mer Ohoinean akhirnya dipimpin oleh seorang Rat Definitif.

Mahmud Rusbal dikukuhkan menjadi Rat dengan gelar Rat Kat El pada Sabtu (4/7/2020) di Ohoi Ohoinangan, Kecamatan Kei Besar, melalui ritual adat yang “maryadat” atau mengagumkan. Sebagai Rat, Mahmud memimpin 10 ohoi, lima ohoi orangkai dan lima ohoi soa.

Pengukuhan dimulai dengan “yaha bran”, pasukan adat berpakaian hitam dengan kain berang merah sebagai ikat kepala dan dipersenjatai pedang, tombak, dan panah, mengamankan lokasi pelantikan. Mereka berdiri dengan sigap di setiap sudut dan tenda-tenda tamu undangan.

Maflur nit sob duang o he hoar taflai o. Maflur nit sob duang o he bo hoar taflai o. Lai o … hor tauf lai tai taur nel u bo hoar tauf lai o. Hor tauf lai tai taur nel u bo hoar tauf lai o,” nyanyian adat ini membuat suasana menjadi hening. Nyanyian “sak-sak tavlor nit” dinyanyikan sebagai doa adat kepada Tuhan dan leluhur.

Acara dilanjutkan dengan ritual “Waan”. Ritual ini bertujuan untuk menjauhkan segala halangan dan hambatan atas seluruh prosesi pengukuhan dan pelaksanaan tugas raja kelak. Salah satu tua adat setempat, mengolesi minyak menggunakan mas adat pada tiga helai daun kelapa kuning. Daun kelapa itu masing-masing dibuang keluar dari tiga sudut lokasi pelantikan.

Selanjutnya ritual “faroroing wai ledar”, adalah ritual pembersihan dan penyucian menggunakan air, minyak kelapa murni, mas adat, dan pendupaan. Air sebagai lambang pembersih, minyak kelapa melambangkan keteduhan dan kedamaian, emas sebagai simbol keluruhan, kemuliaan, dan keabadian, serta kemenyan sebagai simbol keharuman dan membawa niat pelaksanaan ritual ke hadirat Tuhan dan leluhur. Salah satu tua adat lainnya, membawa air, minyak, serta kemenyan mengelilingi lokasi pelantikan.

Faroroing bakreat akwas”, merupakan ritual pembersihan dan penyucian atribut hukum dan pemerintahan raja; dengan air, bakreat kwas menjadi bersih seutuhnya; dengan minyak dan emas, dapat melahirkan keteduhan, kedamaian, kemuliaan, dan segala keluhuran hukum Larvul Ngabal dan pemerintahannya akan melahirkan keharuman bagi lor mer ohoinean dan seluruh ur siuw. Tua adat yang ketiga melakukan pendupaan, memercik minyak dengan mas adat, dan memercik air di dalam woma, tempat pengukuhan.

Memasuki inti pengukuhan adat, calon Rat/Raja mengambil tempat di pusat woma, dan tetua adat berdiri mengelilingi raja di dalam woma.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ARTIKEL TERPOPULER

Pemkot Tual Pulangkan 254 Pelaku Karantina: Terbanyak Mahasiswa

Wali Kota memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menasihati pelaku karantina yang sebagian besar adalah pelajar mahasiswa.

Jalan Trans Pulau Kei Besar Resmi Jadi Proyek Prioritas Nasional

Selamat untuk seluruh masyarakat Maluku Tenggara. Kita tatap Maluku Tenggara yang lebih baik. Langgur/Jakarta, suaradamai.com – Kabar baik bagi...

Tharob: Varietas Bawang Merah Tajuk Lebih Baik dan Cocok di Kei

Bawang merah varietas tajuk yang diproduksi di Kei memiliki ciri yang sama seperti di Nganjuk, Jawa Timur. Langgur, suaradamai.com...

Kerajinan Tangan Warga Ohoiren Perlu Inovasi

Kerajinan tangan lokal mulai mengalami kemunduran karena tidak ada inovasi. Langgur, suaradamai.com – Industri kreatif seperti kerajinan tangan...

KOMENTAR TERBARU