Penyu Belimbing “Tabob” Terancam Punah, Pemuda Nufit Harus Ambil Langkah

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tabob tidak hanya terancam punah dari sisi populasi/jumlah individu di perairan, tetapi juga dari sisi tradisi penangkapan itu sendiri.


Langgur, suaradamai.com – Pemuda Ratschaap Nufit, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara sebagai pewaris tradisi penangkapan “Tabob” atau penyu belimbing, tidak boleh tinggal diam terhadap ancaman kepunahan Tabob.

Tabob tidak hanya terancam punah dari sisi populasi/jumlah individu di perairan, tetapi juga dari sisi tradisi penangkapan itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah memasukan penyu belimbing atau Tabob dalam Daftar Merah Spesies yang Terancam (Red List of Threatened Species).

Ancaman terhadap hewan purba ini bervariasi dalam ruang dan waktu, dan dalam dampak relatif terhadap populasi. Kategori ancaman yang mempengaruhi penyu belimbing, dijelaskan oleh Wallace et al (2011) sebagai: tangkapan sampingan perikanan, ambil (untuk konsumsi atau komersial), pembangunan pesisir yang mempengaruhi habitat penyu kritis, polusi dan patogen, serta perubahan iklim.

Hasil tangkapan sampingan perikanan diklasifikasikan sebagai ancaman tertinggi bagi penyu belimbing secara global, diikuti oleh konsumsi manusia atas telur, daging, atau produk lainnya, dan pengembangan pesisir.

Kemudian, tradisi penangkapan Tabob juga terancam punah. Hari ini, masyarakat seenaknya menangkap Tabob tanpa melalui prosedur adat yang diwariskan turun-temurun. Padahal jika dilihat, budaya penangkapan Tabob memiliki nilai yang sangat baik untuk peradaban masyarakat adat Nufit.

Hasil kajian tim peneliti WWF-Indonesia menemukan setidaknya ada tujuh tren pergeseran nilai dari budaya penangkapan Tabob, yakni degradasi pada sisi historis atau sejarah; kepercayaan atau keyakinan; musyawarah mufakat; kekerabatan, kebersamaan, dan gotong royong;  seni atau estetika; etika, moral, dan hukum; kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan transparasi.

Tidak bisa dipungkiri, tradisi penangkapan Tabob oleh masyarakat adat Nufit juga merupakan ancaman terbesar. Aditano Yani Retawimbi  dalam penelitiannya yang berjudul “pengaruh tradisi tabob terhadap penyu belimbing di Kepulauan Kei Maluku Tenggara”, menyimpulkan bahwa apabila tradisi budaya Tabob terus-menerus dilakukan maka dapat dipastikan penyu belimbing yang habitat migrasinya melewati Kepulauan Kei akan cepat punah dan hal tersebut secara signifikan dapat mengancam keberadaan populasi penyu belimbing secara global. Tetapi apabila tradisi budaya tersebut dibatasi dan mungkin dimodifikasi menjadi suatu tradisi baru, dapat dipastikan populasi penyu pelimbing sedikit demi sedikit akan kembali meningkat.

Kabar baiknya, sejumlah pemuda Nufit di kampung-kampung masih sudah cukup sadar akan hal ini. Dalam kegiatan sosialisasi dan diskusi pelestarian penyu di Kepulauan Kei yang dilakukan oleh Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Maluku dan mitra, 22-30 Maret 2021, beberapa pemuda mendesak agar secepatnya persoalan tabob ini segera diatasi.

Pemuda Ohoi Ohoidertutu Roy Ngamelubun punya ide yang baik. Roy berpendapat bahwa salah satu cara untuk mengatasi penangkapan Tabob yang berlebihan adalah kembali ke cara leluhur.

Maksud dia adalah, melakukan seluruh tahapan proses dari persiapan hingga pembagian hasil tangkapan dilakukan secara tradisional. Harus ada ritual adat sebelum dan sesudah penangkapan, mengggunakan habo (perahu tradisional), dan seterusnya.

Dengan melakukan ini, kata Roy, penangkapan Tabob pasti berkurang, sehingga populasi Tabob di perairan semakin banyak. Ini kemudian juga akan mendukung pariwisata. Ketika ada wisatawan yang datang, mereka bisa bersama-sama menangkap Tabob secara tradisional. Dengan demikian, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nufit. Lebih dari itu, nilai budaya penangkapan Tabob bisa hidup kembali.

Dalam kegiatan serupa di kesempatan berbeda, Pemuda Madwaer Stef Rumohoira mengajak seluruh pemuda Nufit untuk segera berdiskusi dan mengambil langkah terkait pelestarian Tabob.

Hal yang sama disampaikan di Ohoi Somlain. Dalam diskusi, seorang pemuda di sana mengusulkan untuk membentuk suatu wadah perkumpulan pemuda Nufit. Melalui wadah ini para pemuda berkumpul, berdiskusi, memecahkan berbagai persoalan di Nufit, termasuk masalah Tabob.

Usulan lain datang dari seseorang yang tak mau namanya disebut. Dia sepakat agar pemuda harus duduk bersama, tetapi bukan dalam suatu wadah perkumpulan atau komunitas. Menurut pengalaman dia, organisasi atau komunitas seringkali tidak berjalan dengan baik. Sebab itu, dia mengusulkan untuk mengadakan pertemuan tahunan, dimana setiap ohoi di Ratschaap Nufit bertindak sebagai panitia ketika menjadi tuan rumah pertemuan tersebut.

“Semua ohoi kan sudah punya pemuda. Misalnya, pertemuan pertama di Ohoi Somlain, maka pemuda Somlain yang bertindak sebagai panitia,” jelas dia.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU