Di Kolser, tarian bukan sekadar gerak ia menjadi jalan iman, cara memberi, dan bahasa kebersamaan yang hidup dari rumah ke rumah.
Langgur, Suaradamai.com – Denting gong dan hentakan tipa memecah siang di Ohoi Kolser, Minggu (12/4/2026). Di bawah langit cerah, ratusan penari bergerak serempak dalam balutan busana adat merah. Mereka bukan sekadar menari. Mereka sedang merawat ingatan, menghidupkan iman, dan meneguhkan solidaritas.
Panitia Dedikasi Gereja dan Perayaan 100 Tahun Goa Maria Imakulata Kokser menggelar Saryat keliling ohoi, sebuah prosesi budaya yang sarat makna. Saryat, tarian kolosal khas suku Kei, selama ini dikenal sebagai tarian pengantar tamu atau pengarak tokoh utama dalam pesta adat. Namun kali ini, fungsinya berkembang: menjadi medium penggalangan dana sukarela umat.
Seusai doa di Goa Santa Maria Imakulata Kokser, tepat pukul 13.00 WIT, lengkingan seruling berpadu dengan dentuman gong dan tipa. Irama itu seolah memanggil tubuh-tubuh untuk bergerak. Dari halaman goa, barisan penari mulai berarak menuju Voma pusat kampung—untuk memohon restu leluhur.
Di sepanjang jalan, suasana berubah menjadi panggung kebersamaan. Umat berdiri di depan rumah masing-masing, mengenakan pakaian adat. Sebagian ikut menggerakkan kaki dan tangan, mengikuti irama yang menggema dari pengeras suara di atas kendaraan pickup yang mengiringi rombongan.
Saryat kali ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga gerakan kolektif. Tim usaha dana yang diarak dari rumah ke rumah menerima sumbangan sukarela. Setiap langkah tarian menjadi simbol partisipasi, setiap irama menjadi ajakan untuk memberi.
Ratusan penari laki-laki dan perempuan diutus dari tiap rukun di Stasi Kolser. Kebersamaan itu semakin terasa ketika Budi Mayabubun, seorang imam yang menjabat sebagai Pastor Paroki, turut menari bersama umat. Dalam kesempatan yang sama, Penjabat Kepala Ohoi Kolser juga ambil bagian, menyatu dalam barisan sebagai bagian dari gerak kolektif masyarakat.
Prosesi mencapai salah satu titik penting di Tugu Mgr. Yohanes Aerts. Di sana, penari perempuan membentuk lingkaran, menampilkan tarian penghormatan yang khidmat. Sementara penari laki-laki melanjutkan arak-arakan menuju kompleks Forganza, sekitar dua kilometer dari tugu, memperluas jangkauan gerakan kebersamaan ini.
Menjelang senja, sekitar pukul 17.00 WIT, seluruh rangkaian kembali berakhir di Goa Santa Maria Imakulata Kokser tempat semuanya bermula. Dalam suasana syukur, panitia melalui Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Kolser mengumumkan hasil penggalangan dana yang terkumpul sepanjang prosesi.
Saryat hari itu bukan hanya tarian. Ia menjadi bahasa yang menyatukan tradisi dan iman, budaya dan aksi nyata. Dalam setiap langkah dan hentakan, tersimpan pesan sederhana namun kuat: bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama dalam membangun masa depan—baik bagi gereja, maupun bagi komunitas.

