Soal PjBL Prodi AWB Polikant, Wisman: Kesempatan Baik bagi Mahasiswa

Sejumlah wisatawan asing merespon positif program Project-Based Learning (PBL/PjBL) yang dilaksanakan oleh Prodi AWB Polikant. Lewat program ini, mahasiswa kampus biru berlatih membuat paket wisata dan menjadi pemandu wisata.


Langgur, suaradamai.com – Dua wisatawan mancanegara memberikan tanggapan soal program Project-Based Learning (PBL/PjBL) yang dilaksanakan oleh Program Studi Agrowisata Bahari (Prodi AWB) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), di Ohoi Letvuan, Maluku Tenggara, (12/11/2024).

Bagi mereka, program ini adalah kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris.

PBL/PjBL adalah sebuah metode pembelajaran di Politeknik Perikanan Negeri Tual, yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Lewat program ini, Prodi AWB Polikant, melatih mahasiswa membuat paket wisata dan menjadi pemandu wisata.

Bruno, salah satu wisatawan asal Perancis, berpendapat bahwa program PjBL di Ohoi Letvuan sudah terorganisir dengan baik. Ia menilai, wadah ini merupakan sarana latihan yang baik bagi mahasiswa.

“Kadang kami melihat ada keraguan mahasiswa menyampaikan ide [penjelasan tentang spot wisata]. Tetapi, kami pikir, program ini sudah diorganisir dengan baik,” ungkap Bruno kepada Suaradamai.com.

Selain itu, rekan satu negara Bruno, Denis, juga berpendapat serupa. Ia pun menilai program ini adalah kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris.

“Ini program yang sangat baik. Baik bagi semua untuk mengikuti. Mudah-mudahan ada kemajuan [dari mahasiswa] dan dapat melakukan yang terbaik kedepannya,” ujar Denis.

“Plus, ini sangat baik bagi kami, kami menikmatinya,” kata Denis menambahkan soal pelibatan dirinya dan lima wisman lain dalam tur keliling Ohoi Letvuan.

Sebagai informasi, total ada enam wisatawan asing yang dilibatkan dalam program tersebut. Mereka diantar oleh mahasiswa semester V Prodi AWB dan para dosen, mengunjungi lima obyek wisata.

Perjalanan awal dilakukan di Gua Hawang, kemudian ke Rumah Adat, Makam Raja Ohoivuur, Kebun Kopi, dan bunker peninggalan Jepang.

Di setiap lokasi, lima mahasiswa bertindak selaku tour guide atau pemandu wisata, ada juga sebagai penerima tamu. Sementara para dosen dalam program ini berperan sebagai pendamping mahasiswa.

Editor: Labes Remetwa


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Kepulauan Aru Masuk Jajaran Kabupaten Terbaik Perlindungan Kesehatan, Raih UHC Awards

Kehadiran Kepulauan Aru dalam daftar tersebut membuktikan bahwa keterbatasan...

Kadis P3A Sebut Award Outstanding Child Friendly District Jadi Motivasi Menuju Aru KLA 2027

"Ini memotivasi kami Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak...

Pemkot Ambon Tegaskan Pelaporan Hukum Bukan Pembungkaman Kritik

Ambon, suaradamai.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menegaskan bahwa...

FGD Polikant Dorong Integrasi Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan di Kepulauan Kei

“Supaya masyarakat bisa mawas diri dalam mengonsumsikan bahan pangan...