Mahasiswa TPI Polikant mengembangkan balok pupuk slow release untuk mempercepat terbentuknya rantai makanan di sekitar rumpon. Teknologi itu sedang diuji sebagai upaya meningkatkan agregasi ikan pelagis di perairan Maluku Tenggara.
Langgur, suaradamai.com – Mahasiswa Program Studi Teknologi Penangkapan Ikan (TPI) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) mencoba pendekatan berbeda untuk meningkatkan produktivitas rumpon. Lewat Project Based Learning (PBL) yang digelar di Desa Sathean, Kabupaten Maluku Tenggara, pada 30 Juni 2026, mereka mengembangkan balok pupuk slow release sebagai penyuplai nutrien guna merekayasa habitat perairan di sekitar rumpon.
Teknologi itu dirancang agar nutrien dilepaskan secara bertahap ke perairan. Harapannya, fitoplankton dan zooplankton tumbuh lebih cepat sehingga memancing kehadiran ikan-ikan kecil yang kemudian menarik ikan pelagis bernilai ekonomis.
“Tujuannya di sini untuk merekayasa habitat perairan di sekitar area rumpon,” kata Manager Project PBL Prodi TPI Polikant, Fatmah Marasabesy.
Menurut Fatmah, kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa semester II dan semester IV. Mereka mengerjakan seluruh tahapan inovasi, mulai dari merancang formula, membuat balok pupuk, memasangnya di rumpon, hingga memantau hasil pengujiannya di lapangan.
Balok pupuk dibuat di Laboratorium Fishing Ground menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh, seperti pupuk NPK, tepung tapioka, semen putih, plamir, dan kapur. Setiap bahan ditimbang dengan komposisi tertentu agar menghasilkan balok yang mampu melepaskan nutrien secara perlahan di dalam air.
“Kalau pupuk ini luruh di area rumpon, dia menumbuhkan fitoplankton dan zooplankton. Adanya fitoplankton dan zooplankton ini kemudian menghadirkan ikan-ikan kecil yang nanti menarik perhatian ikan target atau ikan predator yang menjadi ikan incaran para nelayan,” ujarnya.
Pengujian dilakukan pada dua rumpon milik nelayan Desa Sathean yang berjarak sekitar 30–40 menit dari desa. Satu rumpon dipasangi balok pupuk sebagai penyuplai nutrien, sedangkan satu rumpon lainnya dibiarkan dalam kondisi konvensional sebagai pembanding.
Dari pengamatan awal, tim menemukan perbedaan pada kedua rumpon tersebut. Rumpon yang menggunakan balok pupuk menunjukkan kelimpahan fitoplankton dan zooplankton lebih tinggi dibandingkan rumpon tanpa perlakuan.
“Dari hasil perlakuan itu ditemukan adanya kelimpahan fitoplankton dan zooplankton pada rumpon yang menggunakan teknologi penyuplai nutrien atau balok pupuk slow release yang dikembangkan oleh mahasiswa TPI dalam PBL ini,” kata Fatmah.
Meski demikian, ia menegaskan inovasi tersebut masih berada pada tahap uji coba. Tim masih terus memantau perkembangan plankton serta agregasi ikan pelagis untuk mengetahui efektivitas teknologi tersebut terhadap hasil tangkapan nelayan.
“Kalau dari hasil monitoring dan evaluasi ke depan rumpon yang menggunakan teknologi penyuplai nutrien ini meningkatkan hasil tangkapan, maka kita rekomendasikan pembuatan prototipe atau produknya lebih banyak lagi untuk diperkenalkan kepada nelayan-nelayan rumpon,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, PBL bukan sekadar praktik lapangan. Kegiatan itu menjadi ruang belajar untuk mengenali persoalan yang dihadapi nelayan, merumuskan solusi berbasis riset, lalu mengujinya secara langsung di lapangan.
“Dengan adanya PBL ini mahasiswa sudah mulai memahami masalah-masalah di perairan dan kendala-kendala nelayan dalam mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Mereka mulai mencari solusi, membuat inovasi, dan ke depan ini bisa menjadi bahan penelitian untuk tugas akhir mahasiswa,” kata Fatmah.
Ia berharap kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan nelayan melalui PBL mampu melahirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat proses pembelajaran, tetapi juga mendukung ketahanan pangan berbasis sumber daya kelautan serta meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.
