Apakah “Ve’e Kes Yang” Berpengaruh terhadap Lesuhnya Pasar Langgur?

Kepala Dinas Pertanian dan Ketapang Malra Felix Tethool menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi lesuhnya Pasar Langgur.


Langgur, suaradamai.com – Pandemi Covid-19 berdampak pada lesuhnya ekonomi dunia. Tidak terkecuali Kabupaten Maluku Tenggara. Sejak Pemkab Malra dan Pemkot Tual memberlakukan “local lockdown” (penutupan akses bandara dan pelabuhan), Pasar Langgur makin lesuh.

Sejumlah pedagang (papalele) mengeluh karena barang jualan kurang laku. Petani yang turun dari kampung juga mengeluhkan hal yang sama. Bahkan mereka menuding program “ve’e kes yang” yang dibuat pemerintah daerah menjadi penyebab lesuhnya pasar. Tudingan ini juga sempat ramai di media sosial.

Baca juga: Bupati: “Ve’e Kes Yang” Jadi Perbekalan Masa Depan Malra dalam Masa Pandemi

Tim suaradamai.com bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maluku Tenggara melakukan diskusi bertajuk pembangunan pertanian selangkah di depan yang dilaksanakan pada Selasa siang (25/8/2020) di Kantor Distan Ketapang Malra. Dalam diskusi itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketapang Felix Tethool menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi lesuhnya pasar, antara lain dampak ekonomi dunia, pergeseran anggaran untuk penanganan Covid-19, dan banyak orang mulai berkebun termasuk ASN.

Dampak ekonomi dunia turut mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) minus 5,32 persen.

Dilansir Kompas.com, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menjelaskan, dampak yang paling dirasakan masyarakat saat pertumbuhan ekonomi RI minus 5,32 persen adalah menurunnya pendapatan secara signifikan. “Jadi ini dampaknya pada penurunan secara serentak pendapatan,” kata Bhima saat dihubungi Kompas.com, Rabu (5/8/2020).

Baca juga: Dinas Pertanian Ketapang Malra Terapkan Smart Irrigation di “Ve’e Kes Yang”

Adanya pergeseran anggaran menyebabkan perederan uang berkurang. Pemerintah daerah harus melakukan pergeseran anggaran berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan untuk menangani pandemi Covid-19. Pergeseran anggaran ini mencakup kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, termasuk pos perjalanan dinas pegawai baik ke luar daerah maupun di dalam daerah. Hal ini menyebabkan berkurangnya kemampuan belanja ASN di pasar.

Untuk mempertahankan stabilitas pangan keluarga, banyak orang – termasuk ASN – tergerak untuk membuat kebun, hingga bertani di pekarangan rumah. Cukup banyak ASN melakukan hal ini. Dengan demikian kunjungan ke pasar mulai berkurang.

Untuk diketahui, hasil panen “ve’e kes yang” dibagikan kepada warga terdampak pandemi Covid-19, bukan ASN. Sementara pengunjung utama pasar adalah ASN. “Katong menyiapkan bukan untuk ASN, tetapi daerah-daerah stunting dan panti asuhan. Segmentasi pegawai itu tetap merupakan pelanggan dari pasar,” jelas Felix.

Manfaat Ve’e Kes Yang

Dalam berbagai pertemuan publik, Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun menjelaskan bahwa “ve’e kes yang” memiliki setidaknya dua manfaat, antara lain sebagai penyedia pangan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Untuk mengatasi mengantisipasi krisis pangan, Pemkab Malra membuka sekitar 28 hektar lahan. Bupati bersama TNI-Polri dan pimpinan OPD telah melakukan beberapa kali panen dan membagikan hasil panen kepada keluarga miskin, stunting, dan panti asuhan.

Selain sebagai penyedia pangan, ve’e kes yang dijadikan tempat pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pada Jumat nanti (28/8/2020), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan akan melakukan pelatihan di ve’e kes yang dan melibatkan petani dari ohoi-ohoi.

Dampak Ve’e Kes Yang

Ve’e kes yang ini telah menjadi inspirasi bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, yang kemudian telah membentuk sebuah lokomotif pembangunan pertanian di Kabupaten Maluku Tenggara yang disebut “The Dream Team.”

Ke depan, ve’e kes yang juga akan berkontribusi terhadap leading sector pembangunan, yakni pariwisata. Orang akan datang berkunjung dan belajar teknologi pertanian di ve’e kes yang. “Walaupun (sumbangan pengunjung) sedikit. Tapi katong berusaha untuk menyumbangkan 10 orang per tahun atau 5 orang per tahun,” ujar Felix.

Editor: Labes Remetwa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU