”Kami hadir di sini bersama basudara dari Papua yang datang di Aru, dan mereka sudah menjadi warga masyarakat Kepulauan Aru, maka wajib hukumnya kami hadir bersama-sama dengan mereka,” ucap Kadis Sosial, Tonci Koljaan.
Dobo, suaradamai.com – Menyambut HUT ke-81 RI, Dinas Sosial (Dinsos) Kepulauan Aru bersama Badan Intelegen Negara (BIN) menyambangi warga asal Papua yang berdomisili di pinggiran Kota Dobo, Sabtu (15/8/2026).
Rangkaian kunjungan dimulai dengan penyerahan dan pemasangan bendera merah putih.
Selanjutnya, tak hanya membawa sembako untuk mereka, Tim Dinsos juga mengajak serta anak-anak Papua untuk ikut lomba makan kerupuk, layaknya anak-anak Indonesia di berbagai penjuru yang menyambut hari kemerdekaan.
Senyum kegembiraan terlihat pada anak-anak yang begitu antusias mengikuti lomba tersebut.
Setelahnya, mereka diberikan bungkusan makanan, jajanan, dan menikmati bersama.
”Senang ikut lomba, dapat beras. Selamat ulang tahun Indonesia, merdeka,” ucap Januari, salah satu anak Papua yang menyampaikan kegembiraannya.
Kepala Dinas Sosial, Tonci Koljaan mengatakan, kunjungan ini tak lain untuk menghadirkan makna kemerdekaan bagi mereka yang masih termarginalkan.
”Kami hadir di sini bersama basudara dari Papua yang datang di Aru, dan mereka sudah menjadi warga masyarakat Kepulauan Aru, maka wajib hukumnya kami hadir bersama-sama dengan mereka. Mereka warga negara Indonesia, tetapi sampai hari ini, mereka tidak ada bendera merah putih,” ucap Koljaan.
Apalagi mereka hidup dalam kemiskinan ekstrem, tak punya tanah, rumah, dan hanya tinggal di gubuk kecil di tanah milik orang.
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Aru, Meylani Loidia Gaibau
berharap, ke depan pemerintah daerah bisa hadir mewujudkan kemerdekaan bagi mereka yang juga warga negara Indonesia, tetapi masih hidup dalam kemiskinan ekstrem.
”Mereka juga butuh bantuan, mereka butuh tempat tinggal khususnya. Karena sementara mereka tinggal di gubuk ini, dan besok juga disuruh pindah,” ungkap Gaibau.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.
Kegiatan serupa masih terus dilakukan di berbagai titik kediaman warga asal Papua.

