Keunikan Safari Adat di Desa Taar

Proses sharing dan dialog dalam Safari Adat di Desa Taar dilakukan berdasarkan tradisi sdov sadivun. Berdasarkan tradisi tersebut, para pemuka adat maupun pemerintah daerah dan masyarakat duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar atau permadani sambil berdiskusi.

Tual, suaradamai.com – Safari Adat yang diprakasai oleh Pemerintah Kota Tual di bawah pimpinan Wali Kota Adam Rahayaan dan Wakil Wali Kota Usman Tamnge kembali digelar di Desa Taar Kecamatan Dullah Selatan Kota Tual, Sabtu (16/11/19). Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, Safari Adat di Desa Taar menampilkan ciri kekhasan yang sungguh sangat mengunggah hati masyarakat.

Sesuatu yang berbeda itu, nampak dari rentetan prosesi arak-arakan wali kota bersama para raja dan rombongan kala mendatangi Desa Taar hanya dengan menumpangi mobil pick up L300 berbalut Bendera Merah Putih. Prosesi adat dan tarian oleh sekelompok putri desa tersebut pun turut mewarnai penyambutan rombongan Wali Kota Tual.

“Beta sangat kagum dan bangga dengan Bapak Wali Kota, walau matahari panas tapi beliau dengan para raja nekad duduk di atas mobil truk untuk datang buat Safari Adat di Desa Taar. Padahal kalau mau dibilang, beliau kan bisa duduk nyaman di mobil tertutup, beta salut sekaligus beri apresiasi untuk hal itu,” ujar salah satu warga.

Tak sampai di situ, keunikan lain dalam gelaran Safari Adat kali ini menampilkan kekhasan tradisi masyarakat Kei, sebagaimana dalam pelaksanaan forum pertemuan adat. Dalam tradisi ini, para pemuka adat maupun pemerintah daerah dan masyarakat wajib duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar atau permadani sambil berdiskusi. Dalam bahasa lokal, tradisi ini disebut sdov sadivun.

Bagi masyarakat Kei, tradisi ini merupakan sesuatu yang senantiasa harus ada dalam setiap prosesi kegiatan yang berkaitan dengan adat-istiadat, sehingga diharapkan tradisi ini nantinya takkan pernah termakan waktu.

“Kami senantiasa mendukung program Wali Kota dan Wakil Wali Kota melalui Safari Adat ini, namun satu hal bahwa sebagai masyarakat Kei, kita jangan meninggalkan sejarah dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur kita,” ujar warga.

Nuansa tradisi dalam gelaran Safari Adat ini lantas membawa hikmah yang mendalam bagi seluruh komponen Pemerintah Kota Tual dan masyarakat Desa Taar. Di balik itu, sang Wali Kota Tual Adam Rahayaan menyatakan bahwa dirinya sangat terkagum dengan semua yang telah dipersiapkan masyarakat Desa Taar dalam menyambut proses Safari Adat ini.

Sang Wali Kota sempat khawatir, namun ia meyakini bahwa semangat dan antusias yang ditunjukkan masyarakat di Desa Taar dapat menjadi pijakan bagi suksesnya penyelenggaraan Pilkades serentak di Kota Tual pada tahun 2020 mendatang. Dan dirinya juga berharap agar Desa Taar dapat menjadi teladan dan contoh bagi desa-desa lainnya, seperti yang telah terjadi pada beberapa tahun lalu. (gerryngamel/NR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU