Umat Katolik Paroki Ohoidertutu Dukung Penuh Pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar

Paroki Ohoidertutu terdiri atas enam stasi, yakni Stasi Ohoidertutu, Ohoidertom, Yatwav, Somlain, Tanimbar Kei, dan Ohoiren.


Langgur, suaradamai.com – Gereja Katolik Keuskupan Amboina Wilayah Kei Kecil dan Kota Tual menggandeng sejumlah pihak dalam rangka menjaga kelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di wilayah tersebut.

Upaya itu diwujudnyatakan melalui workshop yang melibatkan pihak gereja (Wakil Uskup, Pastores, Dewan Pastoral Paroki, dan Dewan Pastoral Stasi) bersama Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tual, Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Gugus Pulau VIII Kepulauan Kei, Dinas Perikanan Maluku Tenggara, dan pemerhati budaya Kei.

Workshop yang dilaksanakan di Gedung Katolik Centre Langgur pada 28 agustus lalu itu, menghasilkan satu keputusan dan empat rekomendasi.

Gereja Katolik Wilayah Kei Kecil dan Kota Tual memutuskan untuk tidak mengkonsumsi semua satwa liar dilindungi, dalam perayaan sakramen.

Kemudian, empat butir rekomendasi adalah sebagai berikut:

  1. Gereja Katolik perlu berperan aktif dalam upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi di Kepulauan Kei, termasuk nilai adat yang melekat.
  2. Gereja mendorong kelompok-kelompok kategorial dalam struktur Gereja Katolik untuk terlibat aktif dalam kegiatan nyata berkaitan dengan pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi.
  3. Gereja bersama lembaga adat dan pemerintah mendukung upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi.
  4. Upaya pelesarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi dilakukan dalam berbagai bentuk seperti: (a) Gereja menjadi panutan melalui praktek nyata yang berkaitan dengan upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi. (b) Imbauan melalui mimbar Gereja secara konsisten. (c) Mengakomodir isu-isu pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi dalam program kerja tahunan gereja. (d) Menggiatkan sosialisasi dan edukasi, termasuk pemantauan tentang pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi melalui Dewan Pastoral Paroki dan Dewan Pastoral Stasi kepada umat Katolik.

Resort KSDA Tual kemudian menggandeng pihak-pihak terkait, menyampaikan hasil workshop tersebut kepada umat Katolik, khusus di Paroki Ohoidertutu (wilayah Kecamatan Kei Kecil Barat).

Paroki Ohoidertutu yang perama dikunjungi karena umat Katolik di wilayah ini masuk dalam kesatuan masyarakat adat Ratschap Nufit, yang memiliki kebiasaan berburu salah satu hewan purba yang dilindungi, yakni penyu belimbing atau dalam bahasa Kei disebut “Tabob”.

Tim melaksanakan sosialisasi dan berdiskusi dengan umat Katolik di empat stasi di Paroki tersebut, yakni Ohoidertutu, Ohoidertom, Ohoiren, dan Somlain. Kegiatan dilaksanakan selama empat hari, Senin-Kamis (6-9/9/2021)

Pantauan Suara Damai, umat Katolik di Paroki Ohoidertutu sangat mendukung upaya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi. Setidaknya, ada enam hal yang membuktikan bahwa umat Katolik Paroki Ohoidertutu mendukung penuh upaya pelesatarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi.

Wajib melaksanakan keputusan Gereja

Sebagai umat yang taat pada keputusan tertinggi, yakni dari Paus hingga hirarki di bawahnya, umat Katolik Paroki Ohoidertutu wajib melaksanakan keputusan yang dikeluarkan oleh gereja.

Mereka berkomitmen tidak mengonsumsi satwa liar yang dilindungi, dalam perayaan sakramen. Serta melaksanakan empat rekomendasi yang telah dikeluarkan.

Tabob untuk adat

Umat Katolik Paroki Ohoidertutu percaya bahwa Tabob merupakan makanan adat yang diwariskan turun-temurun. Mereka menaati keputusan pemerintah maupun gereja, namun tidak pula mengabaikan adat.

Sebab itu, dalam pemanfaatan Tabob, mereka ingin agar keputusan pemanfaatan penyu belimbing dilakukan melalui sidang adat. Meski demikian, untuk sementara, umat sepakat agar Tabob dimanfaatkan hanya untuk kegiatan adat.

Minta pendampingan

Umat Katolik Paroki Ohoidertutu mendukung penuh upaya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi. Mereka ingin agar program ini berhasil. Sebab itu, pada kesempatan kegiatan sosialisasi dan diskusi, mereka meminta tim sosialisasi agar melakukan pendampingan dalam menyusun dan melaksanakan program-program pelestarian.

Minta tingkatkan sosialisasi dan pengawasan

Umat beranggapan bahwa pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) tidak serta-merta dapat terlaksana melalui sosialisasi dan diskusi semata. Mereka harap ada tindaklanjut, salah satunya melalui pengawasan yang rutin selain pendampingan.

Dalam hal pengawasan ini, mereka meminta agar ada patroli di wilayah Paroki Ohoidertutu (wilayah Kecamatan Kei Kecil Barat), baik di laut maupun di darat.

Selain itu, mereka meminta agar tim juga melakukan sosialisasi secara rutin, setahun sekali. Ini bertujuan untuk mengingatkan sekaligus menyampaikan perkembangan tentang jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi.

Ada upaya pelestarian

Berdasarkan pengakuan salah satu anggota DPS, warga Ohoidertutu sudah mulai sadar dan berpatisipasi aktif dalam menjaga kelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi.

“Tahun lalu, kami bersama Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tual melepas satu ekor penyu belimbing atau tabob yang tersangkut di tali budidaya rumput laut. Pelepasan itu juga disaksikan oleh Dinas Perikanan Malra,” kata dia menjelaskan kesadaran warga terhadap upaya pelestarian satwa.

Punya peraturan desa

Ohoi Ohoidertom bahkan sudah selangkah di depan dalam upaya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Pemerintah Ohoi Ohoidertom sudah membuat sebuah peraturan desa (Perdes) yang mengatur tentang konservasi.

Selain itu, dalam waktu dekat, Ohoidertom akan melaksanakan penanaman mangrove. Pada kesempatan sosialisasi dan diskusi di Ohoidertom, pada Kamis (9/9/2021), mereka langsung mengundang tim sosialisasi agar bersama-sama melaksanakan penanaman mangrove.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU