Tradisi “Tabob” Perlu Dimasukan dalam Muatan Lokal Sekolah di Ratschaap Nufit

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Salah satu penyebab bergesernya nilai dalam tradisi penangkapan tabob atau penyu belimbing adalah kurangnya pengetahuan tentang sejarah Tabob.


Langgur, suaradamai.com – Hasil penelitian WWF-Indonesia menemukan bahwa salah satu penyebab bergesernya nilai dalam tradisi penangkapan Tabob atau penyu belimbing oleh masyarakat adat Ratschaap Nufit (Kecamatan Kei Kecil Barat) Kabupaten Maluku Tenggara, adalah kurangnya pengetahuan tentang sejarah Tabob.

Hal ini terungkap dalam kegiatan sosialisasi dan diskusi tentang pelestarian penyu di Ratschaap Nufit yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku bersama mitra, 22-31 Maret 2021.

Dalam kegiatan itu, budayawan Kei Anton Ohoira yang juga adalah ketua tim peneliti dari WWF-Indonesia dalam penelitian tentang Tabob, menjelaskan tentang tradisi penangkapan Tabob.

Tradisi penangkapan Tabob sebenarnya punya nilai yang sangat baik untuk peradaban masyarakat adat Nufit. Sayangnya, bersasarkan hasil penelitian WWF pada Maret-April 2020 lalu, nilai-nilai seperti kepercayaan atau keyakinan; musyawarah mufakat; kekerabatan, kebersamaan, dan gotong-royong;  seni atau estetika; etika, moral, dan hukum; serta kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan transparasi, sudah mulai terdegradasi.

Sebagai solusi atas persoalan ini, dalam diskusi yang dilakukan dari ohoi (desa) ke ohoi di Kecamatan Kei Kecil Barat itu, masyarakat adat mengusulkan agar materi tentang tradisi penangkapan tabob dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal (Mulok) di sekolah-sekolah di Nufit.

Ohoi Ohoiren bahkan menyepakati usulan tersebut dalam berita acara sosialisasi dan diskusi pelestarian penyu di Kepulauan Kei, pada poin ke-4. Poin ini berbunyi “tradisi budaya pemanfaatan penyu belimbing atau tabob di Nufit perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan lingkungan hidup”.

Anton menjelaskan bahwa generasi saat ini adalah golongan yang mengalami transisi pergeseran nilai. Jika fokus pada generasi sekarang, lanjut Anton, pasti akan timbul masalah. Meski begitu, sosialisasi tetap dilaksanakan, sehingga diharapkan perubahan total terjadi pada generasi berikut.

“Generasi kita ini benar-benar mengalami transisi,” kata pria 55 tahun itu di Ohoiren, (27/3/2021).

Anton menambahkan, pihaknya sementara menyiapkan buku dari hasil penelitian yang mereka lakukan. Draft buku 50an halaman itu telah melalui tahap verifikasi dan siap dicetak.

“Paling lama tahun depan sudah ada. Kita mau kalo kembali jangan jadi hiasan di Perpustakaan saja. Katong semua sudah setengah mati dengan buku ini, diharapkan tindaklanjut,” kata Anton kepada perwakilan guru yang hadir dalam pertemuan.

Editor: Labes Remetwa


Hasil penelitian WWF Indonesia tentang tradisi penangkapan Tabob akan dibukukan dan dibagikan di sekolah-sekolah di Ratschaap Nufit.


Baca juga:

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU