Disperindag Tual Terus Dorong Digitalisasi Pasar

Amir menjelaskan, sebagian besar masyarakat di Kei masih alergi menggunakan uang tunai pecahan di bawah nominal Rp1.000. Ini yang menurut Amir, merugikan masyarakat sebagai konsumen.


Tual, suaradamai.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tual terus berupaya mendorong pembentukan ekosistem pasar digital, yakni dengan mendorong masyarakat melakukan pembayaran non tunai lewat QRIS.

Quick Response Code Indonesian Standard atau yang disingkat QRIS (dibaca KRIS) adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code.

QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjag​a keamanannya.

Kepala Disperindag Tual Darnawati Amir mengatakan, upaya membentuk ekosistem pasar digital bukan hanya dalam rangka mengikuti perkembangan zaman, tetapi pembayaran non-tunai memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah menghemat, khusus bagi masyarakat di Kei.

Amir menjelaskan, sebagian besar masyarakat di Kei masih alergi menggunakan uang tunai pecahan di bawah nominal Rp1.000. Ini yang menurut Amir, merugikan masyarakat sebagai konsumen.

“Sedikit menggambarkan misalnya nih, barang yang harganya Rp10.250. Nah kalau masih tunai, maka kita akan melakukan pembulatan ke atas, jadinya Rp11.000. Akhirnya keuntungannya pada pedagang, merugikan masyarakat. Cuman kita masyarakat masih belum sadar, karena hobi kita tidak senang dengan uang receh,” kata Amir mencontohkan.

“Kalau kita menggunakan transaksi bayar dengan menggunakan QRIS, maka kita tinggal menginput Rp10.250,” sambung dia.

Oleh sebab itu, pada tahun 2022 ini, Disperindag Tual akan terus mendorong dan mewujudkan digitalisasi pasar, yang bertujuan menciptakan ekosistem pasar yang stabil dan menguntungkan bagi pembeli dan penjual.

“Memang ini butuh proses penyadaran, butuh edukasi, bagaimana mengubah kebiasaan tunai menjadi non tunai, mengubah kebiasaan non digital menjadi digital. Semua harus punya peran di dalam pola-pola ini,” kata dia.

Amir mengimbau agar warga masyarakat bisa menggunakan mobile banking atau dompet digital, sebagai alat pembayaran yang lebih aman dan terawasi oleh sistem.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU