Kemeriahan MTQ di Tanimbar, Bukti Kerukunan Umat Beragama di Maluku

Penduduk Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) kurang lebih 127 ribu jiwa. Mayoritas penduduk beragama Kristen Katolik dan Protestan. Hanya sekitar empat persen atau 5.000 jiwa yang beragama Islam. Namun, agenda Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) di Tanimbar sangat meriah. Hal itu terjadi karena dukungan masyarakat dan juga alokasi anggaran yang besar, sekitar Rp23,4 miliar. Sebagian besar anggaran, sekitar Rp21,9 miliar, ditanggung Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar.


Tanimbar, suaradamai.com – Event akbar Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-29 tingkat Provinsi Maluku di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) belum selesai. Namun, banyak pihak jatuh hati sejak pertama tiba di Bumi Duan Lolat.

Para Qori dan Qoriah, pelatih dan asisten pelatih, serta para pejabat dari 11 kabupaten/kota disambut dengan hangat oleh masyarakat KKT yang mayoritas beragama Kristen Katolik dan Protestan. Kehangatan dan kemeriahan itu juga ditunjukkan dalam acara pembukaan MTQ pada Jumat malam (18/3/2022).

Kemeriahan malam pembukaan MTQ Provinsi di Kota Saumlaki, menjadi saksi sejarah bahwa perbedaan adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Sekitar 96 persen masyarakat KKT, diketahui beragama Kristen Katolik dan Protestan. Sementara jumlah warga muslim yang berdomisili tetap di Tanah “Duan Lolat” itu, hanya empat persen.

Kendati demikian, antusiasme masyarakat KKT, yang ditunjukkan di Kota Saumlaki guna mensukseskan jalannya gelaran MTQ, membuktikan bahwa mayoritas dan minoritas serta perbedaan, bukan jadi sekat.

Sebanyak 1.076 warga Muslim (kontingen) dari 11 Kabupaten/kota, telah berada di Kota Saumlaki, yang mayoritas penduduknya adalah Kristen. Keramahan masyarakat setempat dalam menjamu para kontingen diapresiasi.

“Kami sudah seminggu berada di Kota Saumlaki. Situasi di sini, masyarakatnya ramah, dan seperti tidak ada perbedaan, atau rasa takut karena berada di wilayah yang bukan mayoritas Islam. Intinya kami sangat nyaman dengan sambutan masyarakat KKT,” kata salah satu kontingen.

Gubernur Maluku Murad Ismail, dalam sambutannya saat membuka MTQ tingkat Provinsi di KKT mengatakan, momen gelaran dimaksud memiliki keunikan yang baru pernah ada secara nasional.

“Ini merupakan gelaran MTQ tingkat Provinsi, pertama kali di Indonesia dan di Maluku, yang dimana masyarakat dari tuan rumah (KKT), mayoritas merupakan pemeluk agama kristen,” kata Gubernur.

Menurut Gubernur, lancarnya penyelenggaraan tersebut, merupakan bukti kerukunan umat beragama, yang ditunjukan masyarakat KKT dalam mensukseskan MTQ.

“Apresiasi dan terima kasih kepada panitia atas suksesnya pelaksanaan MTQ perlu diberikan. Hal serupa juga saya sampaikan kepada masyarakat KKT, karena telah menunjukkan sikap sebagai tuan rumah yang baik bagi para kontingen,” ujar Gubernur.

Gubernur menambahkan, prestasi dan gelar pada MTQ memang penting, tetapi bukan segalanya. Olehnya itu, Murad berpesan kepada para dewan hakim serta pihak terkait, tidak sekali-kali melanggar aturan yang dapat menyakitkan hati qori dan qoriah.

“Dan saya berharap kepada LPTQ, mulai dari kabupaten hingga provinsi, untuk benar-benar melakukan pembinaan terbaik kepada putra- putri di wilayah masing-masing. Agar ke depan mengharumkan nama Maluku di skala nasional,” tandas Gubernur.

Sementara itu, Bupati KKT Petrus Fatlolon, dalam sambutannya di pembukaan event akbar tersebut mengatakan, MTQ tingkat Provinsi Maluku di wilayahnya merupakan salah satu momen unik.

Menurut Fatlolon, kata unik yang dia maksud karena, Kota Saumlaki merupakan salah satu wilayah yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 127 ribu, dengan mayoritas kristen 96 persen, namun mampu menjadi tuan rumah MTQ.

“Masyarakat muslim di KKT jumlahnya hanya empat persen, atau 5.000 jiwa dari total 127 ribu secara keseluruhan,” ungkap Bupati Fatlolon.

Bahkan, lanjut Fatlolon, panitia MTQ tingkat Provinsi Maluku di KKT, yang dibentuk sejak 2020 sebanyak 386 orang, didominasi oleh mereka yang beragama kristen.

“Ketua panitianya juga merupakan seorang Pastor. Makanya saya katakan, MTQ tingkat Provinsi Maluku di KKT, adalah salah satu event akbar paling unik dan bersejarah di Indonesia,” terang Fatlolon.

“Kami tetap menjaga keragaman hidup antar umat beragama di KKT. Kita di sini juga saling mendukung, melengkapi, melindungi dan menghormati. Sebab hidup rukun dan damai adalah kehormatan bagi orang KKT,” imbuh Fatlolon.

Fatlolon menambahkan, ditetapkannya KKT sebagai tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Maluku, merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi seluruh masyarakat.

“Olehnya itu kami perlu mengucapkan terimakasih dan apresiasi, kepada Gubernur Maluku Murad Ismail. Ini sejarah bagi umat islam dan kristen di KKT, karena sejak kabupaten ini berdiri, baru pernah KKT jadi tuan rumah MTQ,” tutupnya.

Untuk diketahui, peserta, pelatih dan asisten pelatih dari 11 Kabupaten/kota,  yang terlibat dalam MTQ tingkat Provinsi Maluku di KKT berjumlah 1.076 orang.

1.076 orang dari 11 Kabupaten/kota itu diantaranya Kota Ambon  88 orang, Kabupaten Buru 100 orang, Buru Selatan 78 orang, Aru 110 orang, Tual 182 orang ,MBD 42 orang, Maluku Tengah 70 orang, Maluku Tenggara 153, SBB 100 orang, SBT 64 orang dan KKT 91 orang.

Sumber anggaran MTQ XXIX itu sendiri, berasal dari Pemerintah Provinsi Maluku Rp1,5 miliar, dan Rp21,9 miliar dari Pemerintah Daerah KKT. Dengan demikian, total anggaran secara keseluruhan kurang lebih, Rp23,4 miliar.

Bupati-walikota serta para sekertaris daerah maupun kota, dan unsur Forkopimda Maluku, juga terlihat menghadiri pembukaan MTQ tingkat Provinsi Maluku di KKT.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU