Prodi THP Polikant Ajarkan Ibu-Ibu Ohoi Denwet Olah Ikan Tongkol Menjadi Camilan Bernilai Jual

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada 20 Oktober 2026, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Politeknik Perikanan Negeri Tual melatih 20 perempuan di Ohoi Denwet mengolah daging dan tulang ikan tongkol komo menjadi camilan abon ikan lembaran. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi bagi anak usia dini.


Langgur, suaradamai.com — Melimpahnya hasil tangkapan ikan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan nelayan. Ketika hasil tangkapan melimpah tetapi permintaan pasar rendah, harga jual ikan justru dapat merosot hingga merugikan masyarakat pesisir.

Persoalan inilah yang mendorong Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), menghadirkan inovasi pengolahan ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) menjadi camilan abon ikan lembaran yang memiliki nilai ekonomi.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berlangsung di Ohoi Denwet, Kabupaten Maluku Tenggara, pada 20 Oktober 2026.

Kegiatan ini melibatkan 20 perempuan, terdiri atas pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan ibu-ibu masyarakat setempat.

Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Polikant, Dr. Indah Rosulva, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kajian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat nelayan, khususnya rendahnya harga jual ikan tongkol komo meskipun komoditas tersebut cukup banyak dihasilkan.

Menurut Indah, masyarakat dan pasar tertentu cenderung lebih menyukai jenis ikan batu-batu maupun ikan berukuran besar. Akibatnya, ikan tongkol komo yang melimpah kurang diminati sehingga nelayan terpaksa menjualnya dengan harga rendah.

“Para nelayan menghasilkan hasil tangkapannya itu paling banyak ikan tongkol komo. Sementara ikan tongkol komo itu kalau dijual di perusahaan atau di pasar, harganya jatuh,” ungkap Indah.

Kondisi tersebut mendorong dosen THP Polikant mencari alternatif pengolahan yang dapat meningkatkan nilai jual ikan, terutama ketika terjadi kelebihan pasokan hasil tangkapan.

Melalui penerapan teknologi pengolahan sederhana, ikan yang sebelumnya memiliki harga jual rendah diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah dan berpotensi menjadi produk unggulan daerah.

Daging dan Tulang Ikan Diolah Menjadi Camilan

Indah menjelaskan bahwa inovasi yang diperkenalkan tidak hanya memanfaatkan daging ikan tongkol, tetapi juga bagian tulang yang selama ini sering dibuang masyarakat ketika mengolah ikan.

Dalam proses pengolahan, tulang ikan terlebih dahulu dimasak menggunakan teknik presto hingga lunak. Tulang tersebut kemudian dihancurkan menjadi remahan dan dicampurkan dengan daging ikan serta bahan tambahan lainnya.

Campuran tersebut selanjutnya diolah menjadi abon ikan berbentuk lembaran, dipanggang menggunakan oven hingga kering, lalu dikemas menjadi camilan siap konsumsi.

“Biasanya kan tulangnya dan daging merahnya orang buang. Nah, ini kita pakai. Jadi tulangnya kita presto, kemudian kita jadikan remahan, lalu kita campur dengan dagingnya,” jelas Indah.

Selain memanfaatkan bagian ikan yang kurang bernilai secara ekonomi, tim dosen juga memperkenalkan teknik pengolahan abon dengan menggunakan santan tanpa penambahan minyak goreng.

Menurut Indah, penggunaan teknik tersebut bertujuan menghasilkan abon dengan karakteristik lebih kering sehingga berpotensi memiliki daya simpan lebih panjang.

Produk abon ikan lembaran yang dihasilkan juga dikembangkan agar mudah dikemas, disimpan, dan dibawa dalam perjalanan.

Indah menyebutkan bahwa produk dengan tingkat kekeringan yang baik berpotensi bertahan lama. Namun, kepastian umur simpan tetap memerlukan pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanan produk selama penyimpanan.

Melalui inovasi ini, THP Polikant sekaligus memperkenalkan pemanfaatan hasil perikanan yang lebih efisien dengan mengolah bagian-bagian ikan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Dari Ikan Murah, Berpotensi Hasilkan Keuntungan Rp20.000 per Kemasan

Selain memberikan keterampilan produksi, tim dosen THP Polikant juga melatih peserta melakukan pengemasan, menentukan harga jual, serta menghitung biaya dan potensi keuntungan usaha.

Peserta diperkenalkan pada perhitungan sederhana mulai dari kebutuhan bahan baku ikan, biaya bumbu, proses pengolahan, hingga jumlah produk yang dapat dihasilkan.

Berdasarkan simulasi ekonomi yang disampaikan Indah, produk camilan abon ikan lembaran berpotensi memberikan keuntungan sekitar Rp20.000 per kemasan setelah memperhitungkan modal produksi dalam simulasi tersebut.

Apabila seorang pelaku usaha mampu menjual lima hingga sepuluh kemasan setiap hari dengan tingkat keuntungan yang sama, potensi pendapatan bersihnya dapat mencapai Rp100.000 hingga Rp200.000 per hari.

“Bayangkan kalau satu hari kita bisa menghasilkan lima sampai sepuluh, satu hari itu ibu-ibu bisa dapat seratus sampai dua ratus ribu di luar dari penjualan ikan,” ujar Indah.

Meski demikian, angka tersebut merupakan gambaran potensi ekonomi yang masih harus dibuktikan melalui kegiatan produksi dan penjualan secara berkelanjutan.

Indah menilai peluang usaha ini cukup menjanjikan karena bahan bakunya dapat diperoleh dari sisa hasil tangkapan nelayan yang belum terjual.

Bahkan, tulang ikan yang tersisa dari kegiatan pengolahan fillet juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan camilan.

Dengan demikian, inovasi ini berpotensi menghadirkan sumber pendapatan tambahan bagi keluarga nelayan, sekaligus mendorong tumbuhnya usaha pengolahan hasil perikanan yang dikelola perempuan.

Berangkat dari Keprihatinan terhadap Stunting

Tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan masyarakat, kegiatan PKM tersebut juga dilatarbelakangi perhatian dosen THP Polikant terhadap persoalan kekurangan gizi dan stunting pada anak-anak di wilayah sasaran.

Indah mengaku prihatin karena masyarakat yang hidup di kawasan dengan potensi sumber daya ikan cukup besar masih menghadapi persoalan gizi.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya meningkatkan pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi bagi keluarga, khususnya anak-anak.

“Kemudian kita ke Masur ini karena kita melihat ada stunting itu. Bagaimana bisa daerah nelayan, daerah kelompok nelayan, tapi masyarakatnya mengalami stunting,” ungkap Indah.

Atas dasar itu, tim dosen mengembangkan camilan abon ikan lembaran sebagai alternatif produk pangan berbahan baku ikan yang diharapkan lebih menarik bagi anak-anak.

Ikan tongkol merupakan sumber protein hewani dan mengandung sejumlah zat gizi penting. Melalui inovasi produk berbentuk camilan, masyarakat diharapkan memiliki pilihan lain dalam memperkenalkan konsumsi ikan kepada anak usia dini.

Indah berharap produk tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu alternatif pangan lokal yang mendukung pemenuhan kebutuhan gizi balita dan anak-anak PAUD.

Peserta Sudah Bisa Produksi, Produk Mulai Mendapat Pesanan

Salah satu hasil menggembirakan dari kegiatan ini adalah kemampuan peserta mempraktikkan kembali keterampilan yang diperoleh setelah pelatihan selesai.

Indah mengatakan, tim dosen tidak hanya mendemonstrasikan proses pengolahan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba produksi secara mandiri.

Setelah kegiatan pelatihan, sebagian bahan baku yang masih tersedia ditinggalkan untuk diolah kembali oleh masyarakat di rumah masing-masing.

Hasil produksi tersebut kemudian menjadi bagian dari pesanan awal yang diberikan dosen-dosen Polikant kepada peserta.

“Setelah selesai produk sampelnya, kita kan masih ada produk sisa yang kita tinggalkan untuk masyarakat mengolah sendiri. Nah, itu mereka olah di rumahnya masing-masing,” jelas Indah.

Menurutnya, ketertarikan dosen-dosen terhadap produk yang dihasilkan menjadi indikasi awal bahwa camilan abon ikan lembaran memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas.

Tim THP Polikant juga berupaya membantu memperkenalkan produk kepada calon konsumen lain. Apabila terdapat permintaan, pemesanan akan diteruskan kepada ibu-ibu yang telah mengikuti pelatihan.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi, tim PKM menyerahkan satu paket bantuan peralatan berupa oven, blender, dan loyang dengan nilai sekitar Rp1 juta.

Peralatan tersebut disiapkan untuk digunakan secara bersama oleh peserta, dengan pengaturan pemakaian melalui koordinator yang telah ditunjuk.

Indah menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan bersama pengelola PAUD Manfaat Nim yang berperan dalam mengorganisasi peserta, termasuk dukungan dari unsur pemerintah ohoi.

Selain dosen Program Studi THP, kegiatan juga melibatkan teknisi program studi serta unsur Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Polikant dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

Polikant Berkomitmen Lakukan Pendampingan Berkelanjutan

Indah menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak diharapkan berhenti setelah pelatihan dan penyerahan bantuan peralatan.

Program Studi THP Polikant berkomitmen melakukan pemantauan terhadap perkembangan produksi masyarakat, setidaknya selama satu tahun ke depan sebagai tahap awal.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu peserta mempertahankan keterampilan produksi sekaligus mengembangkan peluang pemasaran.

Menurut Indah, kegiatan pengolahan ikan ini juga merupakan kelanjutan dari hubungan kerja sama yang telah dibangun Program Studi THP dengan masyarakat di wilayah tersebut.

Pada tahun sebelumnya, kerja sama difokuskan pada dukungan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan. Selanjutnya, pada tahun ini, kegiatan dikembangkan melalui pelatihan pengolahan hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah.

“Kalau kita penginnya jadi lebih berkelanjutan, selalu ada kelanjutan,” ujar Indah.

Pengembangan program serupa bukan hal baru bagi THP Polikant.

Indah mengungkapkan bahwa sebelumnya program studi tersebut juga telah melaksanakan pelatihan pengolahan abon ikan bersama masyarakat di Dunwahan dan Sitniohoi.

Kegiatan yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah kecamatan itu, menurut Indah, telah mendorong masyarakat mengembangkan usaha abon ikan yang masih diproduksi hingga sekarang.

Produk tersebut bahkan disebut telah menjadi salah satu produk unggulan masyarakat setempat.

Sementara itu, inovasi camilan abon ikan lembaran yang diperkenalkan dalam kegiatan di Ohoi Denwet merupakan pengembangan dari praktik pembelajaran mahasiswa di laboratorium melalui kegiatan praktikum.

Teknologi yang sebelumnya dikembangkan dalam lingkungan pendidikan kemudian diterapkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Wujud Pendidikan Vokasi yang Menjawab Kebutuhan Masyarakat

Kegiatan PKM pengolahan abon ikan lembaran menunjukkan bagaimana pendidikan vokasi dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.

Melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil perikanan, Polikant berupaya menghadirkan solusi terhadap rendahnya nilai jual komoditas ikan sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif di tingkat rumah tangga.

Inovasi ini juga memperlihatkan bahwa peningkatan nilai tambah hasil perikanan tidak selalu membutuhkan teknologi industri berskala besar. Teknologi sederhana yang sesuai dengan kemampuan masyarakat pun dapat menjadi pintu masuk pengembangan usaha.

Namun, untuk berkembang menjadi usaha berkelanjutan, peserta masih membutuhkan penguatan kapasitas produksi, jaminan keamanan dan mutu pangan, legalitas produk, serta akses pemasaran yang lebih luas.

Melalui pendampingan yang berkesinambungan, keterampilan yang telah diperoleh masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi berkembang menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi nyata.

Bagi Program Studi THP Polikant, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan vokasi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Dari ikan tongkol yang sebelumnya kurang diminati pasar, kini terbuka peluang pengembangan camilan lokal bernilai jual yang dapat diproduksi oleh perempuan pesisir.

Dengan inovasi, pemberdayaan, dan pendampingan berkelanjutan, Polikant berharap potensi hasil perikanan Kepulauan Kei dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan mendukung penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat.

PENULIS/PEWARTA: ROBERTUS REMETWA


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Politeknik Perikanan Negeri Tual


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

‎Pemkab Aru Bakal Kasih Reward ke Guru-Kepsek Rajin, yang Malas Tamat Riwayat!

Dobo, suaradamai.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru berkomitmen melakukan...

Dua Pimpinan Adat Moskona Fokus Benahi Budaya dan Keamanan

Kepala Suku terpilih Zakarias Ogoney dan Ketua LMA terpilih...

Pemkot Ambon Dukung Transformasi Kesehatan Digital Berbasis AI melalui Aiko Health

Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon terus mendorong inovasi pelayanan publik...

Kabut Asap Dua Pekan Menyelimuti Maluku, Saiful Chaniago Desak Kapolda Usut dan Umumkan Pelaku Dugaan Pembakaran Hutan

AMBON — Selama sekitar dua pekan, kabut asap tebal terus menyelimuti...