Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) melihat potensi ekonomi ikan asar di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) belum termanfaatkan dengan baik.
Langgur, suaradamai.com – Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) melihat potensi ekonomi ikan asar di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) belum termanfaatkan dengan baik.
Potensi ikan asar yang dimaksudkan adalah produk yang diolah dan dipasarkan secara profesional.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, kampus biru itu berusaha mendorong peluang ekonomi yang satu ini.
Hal tersebut diwujudkan dengan kegiatan “penyuluhan dan pelatihan tentang penerapan teknologi pengasapan ikan menggunakan drum bekas” di Ohoi/Desa Garara, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Selasa (21/2/2023).
Kegiatan tersebut merupakan pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil Perikanan (THP), yang bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat di Ohoi/Desa Garara.
Kegiatan itu diketuai oleh Ir. Fien Sudirjo, M.Sc, bersama dengan dosen lain yaitu Ismail Marasabessy, S.Pi., M.Si, D. S. Royani, S.Pi.,M.Si, K. P. Rahael, S.Pi., dan A. L. Amahorseja, S.Pi., M.Si.
Kepada Suaradamai.com, Ismail Marasabessy menjelaskan, pihaknya berupaya mendorong warga Ohoi Garara itu melihat peluang usaha yang berbeda.
Selama ini, menurut Marasabessy, ohoi penghasil ikan momar dan komo itu hanya memproduksi abon ikan – selain ikan mentah yang langsung ke pasar. Sementara potensi ikan asar yang cukup besar belum dilirik.
Dalam kegiatan tersebut, Polikant juga melibatkan 22 mahasiswa semester V, serta puluhan perangkat dan warga Ohoi Garara yang didominasi oleh ibu-ibu.
Marasabessy mengatakan, mahasiswa lebih banyak berperan dalam kegiatan ini, mulai dari awal hingga kegiatan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat. Para dosen, kata dia, bertindak sebagai fasilitator.
“Jadi ini kegiatan pengabdian masyarakat kolaborasi dosen dan mahasiswa khusus Prodi Teknologi Hasil Perikanan (THP),” jelas Marasabessy.
Lewat kegiatan tersebut, Polikant melatih warga Ohoi Garara menghasilkan ikan asar dengan memanfaatkan alat pengasapan dari drum bekas.
“Kita buat alat itu sedemikian rupa sehingga mudah digunakan dan proses kerjanya lebih baik. Dan itu kita sudah membuatnya (alat pengasapan) di kampus. Sementara implementasi kegiatan pengabdiannya itu di Ohoi Garara,” jelas Marasabessy kepada Suaradamai.com di ruang kerjanya, belum lama ini.
Meski demikian, pihaknya juga melatih warga setempat tentang cara pembuatan alat tersebut, sampai teknik pengasapan/pengolahannya.
Di akhir kegiatan, Wakil Direktur (Wadir) I Polikant Dani S. Royani menyerahkan bantuan alat pengasapan drum bekas tersebut.
Menurut Marasabessy, kegiatan ini akan terus berlanjut. Kedepan, mereka juga akan melatih warga Ohoi Garara melakukan pengemasan/pengepakan (packing) yang profesional.
Editor: Labes Remetwa
Baca juga:





